ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG TASWUF ATAU
FILSAFAT
Mata Kuliah : Aliran Pemikiran Dalam
Dosen: Amad
Syaifulloh M.Pd.I

Disusun Oleh:
1. Ahmat kambali
2 Agus Imam Mashuri
3 Al kholis
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
KHOZINATUL ‘ULUM BLORA
FAKULTAS USSULUDIN
JURUSAN: TAFSIR HADITS
ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG TASAWUF ATAU FILSAFAT
A.
PENDAHULUAN
a.
Latar
Belakang
Kebanyakan kalangan
muslim percaya bahwa salah satu aspek penting untuk mengetahui keuniversalan
ajaran Islam tersebut adalah adanya dorongan untuk senantiasa mencari ilmu
pengetahuan dimana saja dan kapan saja umat Islam berada. Dengan adanya
dorongan dari ayat-ayat al-Qur’an maupun dalam al-Hadits yang menganjurkan umat
Islam agar mencari ilmu pengetahuan inilah yang menyebabkan lahirnya
beberapa disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana salah satu di antaranya
adalah lahirnya ilmu tasawuf yang akan dibahas dalam isi makalah ini. Ilmu
tasawuf sesungguhnya ialah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam yang
utama, selain ilmu Tauhid (Ushuluddin)dan ilmu Fiqih.
Yang mana dalam ilmu Tauhid bertugas membahas tentang soal-soal I’tiqad (kepercayaan) seperti I’tiqad (kepercayaan) mengenai hal Ketuhanan, kerasulan, hari akhir, ketentuan qadla’ dan qadar Allah dan sebagainya. Kemudian dalam ilmu Fiqih adalah lebih membahas tentang hal-hal ibadah yang bersifat dhahir (lahir), seperti soal shalat, puasa, zakat, ibadah haji dan sebagainya. Sedangkan dalam ilmu Tasawuf lebih membahas soal-soal yang berkaitan dengan akhlak, budi pekerti, amalan ibadah yang berkaitan dengan masalah bathin (hati), seperti: cara-cara ihlash, khusu’, taubat, tawadhu’, sabar, redhla (kerelaan), tawakkal dan yang lainnya.[1]
Yang mana dalam ilmu Tauhid bertugas membahas tentang soal-soal I’tiqad (kepercayaan) seperti I’tiqad (kepercayaan) mengenai hal Ketuhanan, kerasulan, hari akhir, ketentuan qadla’ dan qadar Allah dan sebagainya. Kemudian dalam ilmu Fiqih adalah lebih membahas tentang hal-hal ibadah yang bersifat dhahir (lahir), seperti soal shalat, puasa, zakat, ibadah haji dan sebagainya. Sedangkan dalam ilmu Tasawuf lebih membahas soal-soal yang berkaitan dengan akhlak, budi pekerti, amalan ibadah yang berkaitan dengan masalah bathin (hati), seperti: cara-cara ihlash, khusu’, taubat, tawadhu’, sabar, redhla (kerelaan), tawakkal dan yang lainnya.[1]
b.
Rumusan
Masalah
1. Apa itu Tasawuf, dan apa itu
Filsafat?
2. Pengertian Tasawuf secara bahasa
3. Macam-macam Ajaran Tasawuf
4. Kedudukan Ilmu Tasawuf dalam Islam
5. Peran Tasawuf di Dunia Modern
B.
PEMBAHASAN
1. Apa Itu Tasawuf Dan Apa Itu Filsafat
Tasawuf adalah salah satu
cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam. Spiritualitas ini dapat
mengambil bentuk yang beraneka didalamnya. Dalam kaitanya dengan manusia,
Tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya
ketimbanng aspek jasmaninya; dalam
kaitanya dalam kehidupan ia lebih menekankan kehidupan akhirat ketimbang
kehidupan dunia yang fana; sedangkan dalam kaitanya dengan pemahaman keagamaan,
ia lebih menekankan aspek esoteric ketimbang eksoterik,lebih menekankan
penafsiran batini ketimbang penafsiran lahir.
Filsafat adalah
2.
Pengertian
Tasawuf Secara
Bahasa
Mengenai pengertian Tasawuf secara bahasa, ada
beberapa pendapat diantaranya :
·
Berasal dari kata suffah
(صفة)= segolongan sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan dirinya di
serambi masjid Nabawi, karena di serambi itu para sahabat selalu duduk
bersama-sama Rasulullah untuk mendengarkan fatwa-fatwa beliau untuk disampaikan
kepada orang lain yang belum menerima fatwa itu.
·
Berasal dari kata sūfatun
(صوفة)= bulu binatang, sebab orang yang memasuki tasawuf itu
memakai baju dari bulu binatang dan tidak senang memakai pakaian yang
indah-indah sebagaimana yang dipakai oleh kebanyakan orang.
·
Berasal dari kata sūuf
al sufa’ (صوفة الصفا)= bulu yang terlembut, dengan dimaksud bahwa orang sufi itu
bersifat lembut-lembut.
·
Berasal dari kata safa’
(صفا)= suci bersih, lawan kotor. Karena
orang-orang yang
mengamalkan tasawuf itu, selalu suci bersih lahir dan bathin dan
selalu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kotor yang dapat menyebabkan
kemurkaan Allah.[2]
Sedangkan menurut istilah ada beberapa Ulama’ yang mendefinisikan Tasawuf,
diantaranya ialah:
·
Imam Junaid dari
Baghdad (m. 910), mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia
dan meninggalkan setiap sifat rendah”.
·
Syekh Abul Hasan
asy-Syadzili (m. 1258) syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan
tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah
untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan.
·
Sahal al-Tustury (w
245) mendefinisikan tasawuf dengan “ orang yang hatinya jernih dari kotoran,
penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas
dan kerikil” 4).
Dengan demikian dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa
tasawuf itu adalah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah-mujahadah)
untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka
mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala
konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya. Dengan pengertian seperti itu,
maka dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah bagian ajaran Islam, karena ia
membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam rangka membina
akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagaan dan
kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akhirat. Oleh karena itu,
siapapun boleh menyandang predikat mutasawwif sepanjang berbudi pekerti tinggi,
sanggup menderita lapar dan dahaga, bila memperoleh rizki tidak lekat di dalam
hatinya, dan begitu seterusnya yang pada pokoknya sifat-sifat mulia, dan
terhindar dari sifat-sifat tercela.[3]
3.
Macam
- macam Ajaran Tasawuf
a.
Tasawuf
Sunni
Tasawuf sunni banyak berkembang di dunia Islam, terutama di Negara–Negara
yang dominan bermazhab Syafi’i. Tasawuf ini sering d igandrungi orang karena
paham atau ajaran – ajarannya tidak terlalu rumit.
• Ciri-ciri Tasawuf
Sunni :
1. Melandaskan diri
padaAl-quran dan As-Sunnah.
2. Lebih bersifat
mengajarkan dualism dalam hunganan antara Tuhan dan manusia.
4. Kesinambungan antara
hakikat dengan syari’at.
5. Lebih terkonsentrasi
pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyadhah
(latihan – latihan) dan langkah takhalli, tahalli, dan tajalli.
Tasawuf sunni ialah Aliran tasaawuf yang berusaha memadukan aspek hakekat
dan syari’at, yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan
pendekatan diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh
terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat. Dalam kehidupan
sehari-hari para pengamal Tasawuf ini berusaha untuk menjauhkan diri dari
hal-hal yang bersifat keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang dapat
mengganggu kekhusua’an ibadahnya.
Latar belakang munculnya ajaran ini tidak telepas dari pecekcokan masalah
aqidah yang melanda para ulama’ fiqh dan Tasawuf lebih-lebih pada abad kelima
hijriah Aliran syi’ah al-islamiyah yang berusaha untuk memngembalikan
kepemimpinan kepada keturunan ali bin abi thalib.[4]
b. Tasawuf Falsafi
Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya
memadukan antara visi mistis dan visi rasional.Tasawuf ini menggunakan
terminologi filosofis dalam pengungkapannya, yang berasal dari berbagai macam
ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[5]
Di dalam Tasawuf Falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf
sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada
segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep
tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan
filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya
bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil. Kaum sufi falsafi menganggap
bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam
semesta, semuanya adalahh Allah. Mereka tidak menganggap bahwasanya Allah itu
zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy.
c. Tasawuf Syi’ah
Diluar dua Aliran Tasawuf akhlaqi (sunni) dan Tasawuf falsafi, ada juga
yang memasukkan Tasawuf Aliran ketiga, yaitu Tasawuf syi’i atau syiah. Kaum
syiah merupakan golongan yang dinisbatkan kepada pengikut Ali bin Abi Thalib.
Dalam sejarahnya, setelah perang shiffin, orang-orang pendukung fanatik Ali
memisahkan diri dan banyak berdiam di daratan Persia, dan di Persia inilah
kontak budaya antara Islam dan Yunani telah berjalan sebelum dinasti Islam
berkuasa disini.[6]
Ibnu Khaldun dalam AL-Muqaddimah telah menyinggung soal kedekatan syi’ah
dengan Tasawuf, Ibnu Khaldun melihat kedekatan Tasawuf filosofis dengan sekte
Isma’iliyyah dari Syiah. Sekte ini menyatakan terjadinya hulul atau ketuhanan
pada imam mereka. Menurutnya kedua kelompok ini memiliki kesamaan, khususnya
dalam persoalan “quthb” dan “abdal”. Bagi para sufi filosof quthb adalah
puncaknya kaum ‘arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu Khaldun
menyatakan doktrin seperti ini mirip dengan doktrin Isma’iliyyah tentang imam
dan para wakil. Begitu juga dengan pakaian compang camping yang disebut-sebut
berasal dari imam Alina mustahil ada dua cahaya utama secara bersamaan.
Pensucian akhlak dapat digambarkan dengan salah satu dari tiga jalan berikut
ini, dimana masing-masing jalan ini bagi setiap orang tidaklah mudah.
Jalan pertama: Adanya hubungan
dengan seorang ruhaniawan suci yang telah tersucikan jiwa dan akhlaknya. Dengan
kekuatan jiwa dan bimbingan paripurna, ia akan menjauhkan seluruh sifat jelek
dan akhlak buruk darinya. Dan hal ini tidak mungkin kecuali dengan inayah dan
pertolongan jiwa suci Wali Ashr Ajf.
Jalan kedua: Yang mungkin bagi
kita, meskipun berat dan sulit adalah sekali dalam sehari semalam atau sekali
dalam sepekan, kita duduk merenungi dan memikirkan nikmat-nikmat Tuhan yang ada
disekitar kita.
Hingga dengan sendirinya(secara fitrawi) terbukti bahwa nikmat-nikmat Tuhan
mustahil untuk dapat dihitung. Hal ini bisa menyebabkan munculnya usaha yang
patut dan layak dalam mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan. Namun, kesulitan pada
bentuk ini adalah ketidak sucian jiwa yang menjadi penghalang manusia dalam
mengikuti cara dan gagasan seperti ini, karena itu jalan ini pun adalah sulit.
Jalan ketiga: adalah dengan
membentuk majlis-majlis nasehat dan akhlak serta dengan dukungan kehendak jiwa
yang kuat sembari mengingat nikmat-nikmat Tuhan, kita kenalkan pendengaran hati
kita pada hal-hal demikian ini.
4.
Kedudukan Tasawuf dalam Islam
Ajaran Tasawuf
dalam Islam, memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun-rukun Iman dan
rukun-rukun Islam yang sifatnya wajib, tetapi ajaran Tasawuf bersifat sunnat.
Maka Ulama Tasawuf sering menamakan ajarannya dengan istilah “Fadailu al-A’mal”
(amalan-amalan yang hukumnya lebih afdhal, tentu saja maksudnya amalan sunnat
yang utama.
Tasawuf
merupakan pengontrol jiwa dan membersihkan manusia dari kotoran-kotoran dunia
di dalam hati, melunakan hawa nafsu, sehingga rasa takwa hadir dari hati yang
bersih dan selalu merasa dekat kepada Allah. Tujuan tasawuf itu menghendaki
manusia harus menampilkan ucapan, perbuatan, pikiran, dan niat yang suci
bersih, agar menjadi manusia yang berakhlak baik dan sifat yang terpuji,
sehingga menjadi seorang hamba yang dicintai Allah swt. Oleh karena itu,
sifat-sifat yang demikian perlu dimiliki oleh seorang muslim.
Maka dengan
bertasawuf, seseorang akan bersikap tabah, sabar, dan mempunyai kekuatan iman
dalam dirinya, sehingga tidak mudah terpengaruh atau tergoda oleh kehidupan
dunia yang berlebihan dengan bersikap qonaah, yaitu sabar dan tawakal, serta
menerima apa yang telah diberikan Allah walaupun sedikit. Oleh karena itu
tasawuf betul-betul mendapatkan perhatian yang lebih dalam ajaran Islam,
walaupun sebagian ulama fikih menentang tasawuf ini, karena dianggap bid'ah dan
orang yang mempelajarinya telah berbuat syirik, karena tidak berpedoman kepada
Al-Quran dan Sunnah.
Banyak
ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang memerintahkan manusia supaya bertobat,
sabar, tawakal, bersikap zuhud, ikhlas dan ridha kepada Allah swt, serta
membersihkan diri dengan berzikir kepada Allah. Sebagaimana Allah swt,
berfirman:
قَدۡ
أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ١٤ وَذَكَرَ
ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ ١٥
14. “Sesungguhnya
beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman”)
15. “dan dia
ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang “ (QS. Al- A’la : 14-15)
Bukankah kita ingin
dekat dengan Allah sedekat-dekatnya, serta merasa dekat dengan-Nya? Oleh karena
harus ada penyucian diri dengan selalu berusaha membersihkan hati, supaya kita
memperoleh jiwa yang tenteram dan menjadi orang yang bahagia hidup di dunia dan
akhirat. Seperti halnya Rasulullah saw, beliau adalah pembesar dari seluruh
ahli tasawuf yang berdaya upaya dengan sangat kepada kesucian hati serta
menjauhi dari sifat-sifat hati yang jelek.[7]
Jadi, seorang hamba
bisa dekat dengan Allah, yaitu dengan bertasawuf. Dengan demikian tasawuf
memiliki Kedudukan yang penting dalam ajaran Islam tergantung kita dalam
mempelajari dan memahaminya.
5.
Peranan Tasawuf
Di Dunia Modern
Akibat perkembangan jaman yang sangat
modern ini, maka manusia tidak lagi
mengarahkan jiwanya kepada Tuhan Yang Esa---yang menjadi sumber
ketauhidan manusia, tetapi tertumpu
beraneka benda-benda yang berbentuk
fisik, yang tidak pernah memberi mereka kepuasan dan ketenangan. Maka dari
itulah sangat penting peranan Tasawuf di era modern ini di antaranya adalah
1 meluruskan lagi pandangan manusia, yang dulunya jiwanya tidak ketuhan, menjadi
lurus kejalan Alloh
2 menenangkan
jiwa jasmani ataupu rohani
3
menentramkan kehidupan sesame manusia maupun dunia.
C.
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Tasawuf
secara bahasa yaitu: Suffah ( Serambi Masjid Nabawi), Sufatun ( Bulu
binatang), Suuf al sufa’ ( Bulu yang terlembut), Safa’ ( Suci, bersih). Secara
istilah yaitu: bagian ajaran Islam,
karena ia membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam
rangka membina akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagaan
dan kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Macam
– macam ajaran tasawuf diantaranya:
·
Tasawuf
Sunni
·
Tasawuf Falsafi
·
Tasawuf
Syi’i
Dalam Islam Tasawuf
merupakan pengontrol jiwa dan membersihkan manusia dari kotoran-kotoran dunia
di dalam hati, melunakan hawa nafsu, sehingga rasa takwa hadir dari hati yang
bersih dan selalu merasa dekat kepada Allah. Tujuan tasawuf itu menghendaki
manusia harus menampilkan ucapan, perbuatan, pikiran, dan niat yang suci
bersih, agar menjadi manusia yang berakhlak baik dan sifat yang terpuji,
sehingga menjadi seorang hamba yang dicintai Allah swt. Oleh karena itu,
sifat-sifat yang demikian perlu dimiliki oleh seorang muslim.
Jadi, seorang hamba
bisa dekat dengan Allah, yaitu dengan bertasawuf. Dengan demikian tasawuf
memiliki Kedudukan yang penting dalam ajaran Islam tergantung kita dalam
mempelajari dan memahaminya
Wallahu a’lam bisshowaf
DAFTAR PUSTAKA
Mulyadhi Kartanegara. Menyalami
Lubuk Tasawuf : Ciracas, Jakarta 13740
[1] http://santriblarah.blogspot.com/2013/04/ilmu-tasawuf-dalam-islam.html.
Dikutip pada tanggal 15 Maret 2015.
[2] http://kumpulanmakalahkuliah.blogspot.com/2013/09/pengertian-tasawuf.html.
Dikutip pada tanggal 15 Maret 2015.
[3] http://www.sarjanaku.com/2011/11/pengertian-tasawuf-secara-etimologi-dan.html.
Dikutip pada tanggal 15 Maret 2o15.
[4] http://irvanzaky2.blogspot.com/2012/05/aliran-aliran-dalam-tasawuf.html. Dikutip pada
tanggal 15 maret 2015.
[5] https://yenimusfiroh.wordpress.com/2011/12/13/tasawuf-sunni-dan-falsafi. Dikutip pada
tanggal 15 maret 2015.
[6] http://irvanzaky2.blogspot.com/2012/05/aliran-aliran-dalam-tasawuf.html. Dikutip pada
tanggal 15 maret 2015.
[7] http://santriblarah.blogspot.com/2013/04/ilmu-tasawuf-dalam-islam.html. Dikutip pada
tanggal 15 maret 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar