Senin, 30 Maret 2015

ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG TASAWUF ATAU FILSAFAT



ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG TASWUF ATAU FILSAFAT
Mata Kuliah : Aliran Pemikiran Dalam
Dosen: Amad Syaifulloh M.Pd.I

Disusun Oleh:
1.      Ahmat kambali
                                                   2    Agus Imam Mashuri
                                                   3    Al kholis

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
KHOZINATUL ‘ULUM BLORA
FAKULTAS USSULUDIN
JURUSAN: TAFSIR HADITS












ALIRAN PEMIKIRAN ISLAM DALAM BIDANG TASAWUF ATAU FILSAFAT

A.    PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang
Kebanyakan kalangan muslim percaya bahwa salah satu aspek penting untuk mengetahui keuniversalan ajaran Islam tersebut adalah adanya dorongan untuk senantiasa mencari ilmu pengetahuan dimana saja dan kapan saja umat Islam berada. Dengan adanya dorongan dari ayat-ayat al-Qur’an maupun dalam al-Hadits yang menganjurkan umat Islam agar mencari ilmu pengetahuan inilah yang  menyebabkan lahirnya beberapa disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana salah satu di antaranya adalah lahirnya ilmu tasawuf yang akan dibahas dalam isi makalah ini. Ilmu tasawuf sesungguhnya ialah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam yang utama, selain ilmu Tauhid (Ushuluddin)dan ilmu Fiqih.
Yang mana dalam ilmu Tauhid bertugas membahas tentang soal-soal I’tiqad (kepercayaan) seperti I’tiqad (kepercayaan) mengenai hal Ketuhanan, kerasulan, hari akhir, ketentuan qadla’ dan qadar Allah  dan sebagainya. Kemudian dalam ilmu Fiqih adalah lebih membahas tentang hal-hal ibadah yang bersifat dhahir (lahir), seperti soal shalat, puasa, zakat, ibadah haji dan sebagainya. Sedangkan dalam ilmu Tasawuf lebih membahas soal-soal yang berkai
tan dengan akhlak, budi pekerti, amalan ibadah yang berkaitan dengan masalah bathin (hati), seperti: cara-cara ihlash, khusu’, taubat, tawadhu’, sabar, redhla (kerelaan), tawakkal dan yang lainnya.[1]



b.      Rumusan Masalah

1.      Apa itu  Tasawuf, dan apa itu Filsafat?
2.      Pengertian Tasawuf  secara bahasa
3.      Macam-macam Ajaran Tasawuf
4.      Kedudukan Ilmu Tasawuf dalam Islam
5.      Peran Tasawuf di Dunia Modern

B.     PEMBAHASAN
1.      Apa Itu Tasawuf  Dan Apa Itu Filsafat
       Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek  spiritual dari Islam. Spiritualitas ini dapat mengambil bentuk yang beraneka didalamnya. Dalam kaitanya dengan manusia, Tasawuf  lebih menekankan aspek rohaninya ketimbanng aspek  jasmaninya; dalam kaitanya dalam kehidupan ia lebih menekankan kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia yang fana; sedangkan dalam kaitanya dengan pemahaman keagamaan, ia lebih menekankan aspek esoteric ketimbang eksoterik,lebih menekankan penafsiran batini ketimbang penafsiran lahir.
       Filsafat adalah 

2.      Pengertian Tasawuf Secara Bahasa
           Mengenai pengertian Tasawuf secara bahasa, ada beberapa pendapat diantaranya :
·         Berasal dari kata suffah (صفة)= segolongan sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan dirinya di serambi masjid Nabawi, karena di serambi itu para sahabat selalu duduk bersama-sama Rasulullah untuk mendengarkan fatwa-fatwa beliau untuk disampaikan kepada orang lain yang belum menerima fatwa itu.
·         Berasal dari kata sūfatun (صوفة)= bulu binatang, sebab orang yang memasuki tasawuf itu memakai baju dari bulu binatang dan tidak senang memakai pakaian yang indah-indah sebagaimana yang dipakai oleh kebanyakan orang.
·         Berasal dari kata sūuf al sufa’ (صوفة الصفا)= bulu yang terlembut, dengan dimaksud bahwa orang sufi itu bersifat lembut-lembut.
·         Berasal dari kata safa’ (صفا)= suci bersih, lawan kotor. Karena
orang-orang yang mengamalkan tasawuf itu, selalu suci bersih lahir dan bathin dan selalu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kotor yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah.[2]
Sedangkan menurut istilah ada beberapa Ulama’ yang mendefinisikan Tasawuf, diantaranya ialah:
·         Imam Junaid dari Baghdad (m. 910), mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.
·         Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m. 1258) syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan.
·         Sahal al-Tustury (w 245) mendefinisikan tasawuf dengan “ orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas dan kerikil” 4).
            Dengan demikian dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa tasawuf itu adalah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah-mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya. Dengan pengertian seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah bagian ajaran Islam, karena ia membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam rangka membina akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagaan dan kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, siapapun boleh menyandang predikat mutasawwif sepanjang berbudi pekerti tinggi, sanggup menderita lapar dan dahaga, bila memperoleh rizki tidak lekat di dalam hatinya, dan begitu seterusnya yang pada pokoknya sifat-sifat mulia, dan terhindar dari sifat-sifat tercela.[3]

3.      Macam - macam Ajaran Tasawuf
a.      Tasawuf Sunni
Tasawuf sunni banyak berkembang di dunia Islam, terutama di Negara–Negara yang dominan bermazhab Syafi’i. Tasawuf ini sering d igandrungi orang karena paham atau ajaran – ajarannya tidak terlalu rumit.
• Ciri-ciri Tasawuf Sunni :
1. Melandaskan diri padaAl-quran dan As-Sunnah.
2. Lebih bersifat mengajarkan dualism dalam hunganan antara Tuhan dan manusia.
4. Kesinambungan antara hakikat dengan syari’at.
5. Lebih terkonsentrasi pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyadhah (latihan – latihan) dan langkah takhalli, tahalli, dan tajalli.
Tasawuf sunni ialah Aliran tasaawuf yang berusaha memadukan aspek hakekat dan syari’at, yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat. Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal Tasawuf ini berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu kekhusua’an ibadahnya.
Latar belakang munculnya ajaran ini tidak telepas dari pecekcokan masalah aqidah yang melanda para ulama’ fiqh dan Tasawuf lebih-lebih pada abad kelima hijriah Aliran syi’ah al-islamiyah yang berusaha untuk memngembalikan kepemimpinan kepada keturunan ali bin abi thalib.[4]

b.      Tasawuf Falsafi
Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional.Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya, yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[5]
Di dalam Tasawuf Falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil. Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalahh Allah. Mereka tidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy.
c.       Tasawuf Syi’ah
Diluar dua Aliran Tasawuf akhlaqi (sunni) dan Tasawuf falsafi, ada juga yang memasukkan Tasawuf Aliran ketiga, yaitu Tasawuf syi’i atau syiah. Kaum syiah merupakan golongan yang dinisbatkan kepada pengikut Ali bin Abi Thalib. Dalam sejarahnya, setelah perang shiffin, orang-orang pendukung fanatik Ali memisahkan diri dan banyak berdiam di daratan Persia, dan di Persia inilah kontak budaya antara Islam dan Yunani telah berjalan sebelum dinasti Islam berkuasa disini.[6]
Ibnu Khaldun dalam AL-Muqaddimah telah menyinggung soal kedekatan syi’ah dengan Tasawuf, Ibnu Khaldun melihat kedekatan Tasawuf filosofis dengan sekte Isma’iliyyah dari Syiah. Sekte ini menyatakan terjadinya hulul atau ketuhanan pada imam mereka. Menurutnya kedua kelompok ini memiliki kesamaan, khususnya dalam persoalan “quthb” dan “abdal”. Bagi para sufi filosof quthb adalah puncaknya kaum ‘arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu Khaldun menyatakan doktrin seperti ini mirip dengan doktrin Isma’iliyyah tentang imam dan para wakil. Begitu juga dengan pakaian compang camping yang disebut-sebut berasal dari imam Alina mustahil ada dua cahaya utama secara bersamaan. Pensucian akhlak dapat digambarkan dengan salah satu dari tiga jalan berikut ini, dimana masing-masing jalan ini bagi setiap orang tidaklah mudah.
Jalan pertama: Adanya hubungan dengan seorang ruhaniawan suci yang telah tersucikan jiwa dan akhlaknya. Dengan kekuatan jiwa dan bimbingan paripurna, ia akan menjauhkan seluruh sifat jelek dan akhlak buruk darinya. Dan hal ini tidak mungkin kecuali dengan inayah dan pertolongan jiwa suci Wali Ashr Ajf.
Jalan kedua: Yang mungkin bagi kita, meskipun berat dan sulit adalah sekali dalam sehari semalam atau sekali dalam sepekan, kita duduk merenungi dan memikirkan nikmat-nikmat Tuhan yang ada disekitar kita.
Hingga dengan sendirinya(secara fitrawi) terbukti bahwa nikmat-nikmat Tuhan mustahil untuk dapat dihitung. Hal ini bisa menyebabkan munculnya usaha yang patut dan layak dalam mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan. Namun, kesulitan pada bentuk ini adalah ketidak sucian jiwa yang menjadi penghalang manusia dalam mengikuti cara dan gagasan seperti ini, karena itu jalan ini pun adalah sulit.
Jalan ketiga: adalah dengan membentuk majlis-majlis nasehat dan akhlak serta dengan dukungan kehendak jiwa yang kuat sembari mengingat nikmat-nikmat Tuhan, kita kenalkan pendengaran hati kita pada hal-hal demikian ini.

4.      Kedudukan Tasawuf dalam Islam
Ajaran Tasawuf dalam Islam, memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun-rukun Iman dan rukun-rukun Islam yang sifatnya wajib, tetapi ajaran Tasawuf bersifat sunnat. Maka Ulama Tasawuf sering menamakan ajarannya dengan istilah “Fadailu al-A’mal” (amalan-amalan yang hukumnya lebih afdhal, tentu saja maksudnya amalan sunnat yang utama.
Tasawuf merupakan pengontrol jiwa dan membersihkan manusia dari kotoran-kotoran dunia di dalam hati, melunakan hawa nafsu, sehingga rasa takwa hadir dari hati yang bersih dan selalu merasa dekat kepada Allah. Tujuan tasawuf itu menghendaki manusia harus menampilkan ucapan, perbuatan, pikiran, dan niat yang suci bersih, agar menjadi manusia yang berakhlak baik dan sifat yang terpuji, sehingga menjadi seorang hamba yang dicintai Allah swt. Oleh karena itu, sifat-sifat yang demikian perlu dimiliki oleh seorang muslim.
Maka dengan bertasawuf, seseorang akan bersikap tabah, sabar, dan mempunyai kekuatan iman dalam dirinya, sehingga tidak mudah terpengaruh atau tergoda oleh kehidupan dunia yang berlebihan dengan bersikap qonaah, yaitu sabar dan tawakal, serta menerima apa yang telah diberikan Allah walaupun sedikit. Oleh karena itu tasawuf betul-betul mendapatkan perhatian yang lebih dalam ajaran Islam, walaupun sebagian ulama fikih menentang tasawuf ini, karena dianggap bid'ah dan orang yang mempelajarinya telah berbuat syirik, karena tidak berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah.
Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang memerintahkan manusia supaya bertobat, sabar, tawakal, bersikap zuhud, ikhlas dan ridha kepada Allah swt, serta membersihkan diri dengan berzikir kepada Allah. Sebagaimana Allah swt, berfirman:
 قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ ١٤  وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ ١٥
14. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman”)
15. “dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang “ (QS. Al- A’la : 14-15)
Bukankah kita ingin dekat dengan Allah sedekat-dekatnya, serta merasa dekat dengan-Nya? Oleh karena harus ada penyucian diri dengan selalu berusaha membersihkan hati, supaya kita memperoleh jiwa yang tenteram dan menjadi orang yang bahagia hidup di dunia dan akhirat. Seperti halnya Rasulullah saw, beliau adalah pembesar dari seluruh ahli tasawuf yang berdaya upaya dengan sangat kepada kesucian hati serta menjauhi dari sifat-sifat hati yang jelek.[7]
Jadi, seorang hamba bisa dekat dengan Allah, yaitu dengan bertasawuf. Dengan demikian tasawuf memiliki Kedudukan yang penting dalam ajaran Islam tergantung kita dalam mempelajari dan memahaminya.
5.      Peranan Tasawuf  Di Dunia Modern
     Akibat perkembangan jaman yang sangat modern  ini, maka manusia tidak lagi mengarahkan jiwanya  kepada Tuhan  Yang Esa---yang menjadi sumber ketauhidan  manusia, tetapi tertumpu beraneka benda-benda  yang berbentuk fisik, yang tidak pernah memberi mereka kepuasan dan ketenangan. Maka dari itulah sangat penting peranan Tasawuf di era modern ini di antaranya adalah


1 meluruskan lagi pandangan manusia,  yang dulunya jiwanya tidak ketuhan, menjadi lurus kejalan Alloh
2   menenangkan jiwa jasmani ataupu rohani
3   menentramkan kehidupan sesame manusia maupun dunia.


C.     PENUTUP
a.       Kesimpulan
Tasawuf secara bahasa yaitu: Suffah ( Serambi Masjid Nabawi), Sufatun ( Bulu binatang), Suuf al sufa’ ( Bulu yang terlembut), Safa’ ( Suci, bersih). Secara istilah yaitu: bagian ajaran Islam, karena ia membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam rangka membina akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagaan dan kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Macam – macam ajaran tasawuf diantaranya:
·         Tasawuf Sunni
·         Tasawuf  Falsafi
·         Tasawuf Syi’i
Dalam Islam Tasawuf merupakan pengontrol jiwa dan membersihkan manusia dari kotoran-kotoran dunia di dalam hati, melunakan hawa nafsu, sehingga rasa takwa hadir dari hati yang bersih dan selalu merasa dekat kepada Allah. Tujuan tasawuf itu menghendaki manusia harus menampilkan ucapan, perbuatan, pikiran, dan niat yang suci bersih, agar menjadi manusia yang berakhlak baik dan sifat yang terpuji, sehingga menjadi seorang hamba yang dicintai Allah swt. Oleh karena itu, sifat-sifat yang demikian perlu dimiliki oleh seorang muslim.
Jadi, seorang hamba bisa dekat dengan Allah, yaitu dengan bertasawuf. Dengan demikian tasawuf memiliki Kedudukan yang penting dalam ajaran Islam tergantung kita dalam mempelajari dan memahaminya
Wallahu a’lam bisshowaf





















DAFTAR PUSTAKA
Mulyadhi Kartanegara. Menyalami Lubuk Tasawuf : Ciracas, Jakarta 13740


 














Tidak ada komentar:

Posting Komentar